Bittersweet Symphony

Mencari jati diri, ehm,,

Posted by: mianurindah on: June 18, 2009

Saya sedikit bingung, sebenarnya bakat saya ini apa ya?
Lihat, udah umur seginih, masih mencari jati diri :D *biariin, yey*

Waktu TK, saya disinyalir sang guru punya beberapa bakat, karena entah bagaimana ceritanya, pada angklung, pencak silat, nyanyi, pramuka dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan anak TK, nilai saya relatif baik. Malah kabar nya, pernah bintang kelas di TK itu, cihiy :D
Tapi dalam perjalanannya, bakat-bakat yang disinyalir ada itu tidak tampak.
Seperti pada saat SMP, saya coba mengejawantahkan pencak silat TK kedalam ilmu bela diri Taekwondo. Dan baru ujian naik tingkat dari sabuk putih jadi sabuk kuning, saya udah kepingcut liat orang-orang berkelahi tendang-tendangan. Oooh,, no,,saya tidak tega dan tak kuasa,,maaf yaaa,,, *kabuur*
Lalu, saya sempat pula mencoba peruntungan bermain musik, nebeng temen-temen nge-band, waktu itu coba maen gitar, dan menurut teman-teman, sebaiknya saya mencari jalur lain,,,
Baik, beralih ke cabang olah raga, saya suka main basket, tapi berdasarkan hasil permainan dan laga-laga guru-nya, mungkin lebih baik saya jadi anak bawang saja, Baiklah kalau begitu,,,
Lalu, saat kuliah, karena merasa agak kurang di bidang informatika, maka saya coba peruntungan lagi di bidang politik, setidaknya politik kampus. Wah, agak keren nih :D kali bisa jadi anggota DPR atow staf mentri gituh. Waw..
But then, saat teman-teman saya yang hebat itu berdiskusi alot masalah kampus dan –tentu saja- politik didalamnya, saya menyandarkan diri di tembok dan mengurut-ngurut dahi,, pikiran saya ada di Tugas Akhir saya,, maaf ya, teman-teman,,
Beberapa tahun berlalu, pencarian minat dan bakat sempat dihentikan.

Akhirnya, setelah umur sekian, saya coba lagi telusuri pencarian ini,,
Pertama, di bidang olah raga; dikantor saya ada klub basket, siip, saya coba. Tak dinyana, saya tetap jadi anak bawang. Xixixiii…
Seperti belum mendapat angin segar, saya coba dibidang lain lagi.
Penghasilan yang seharusnya saya tabung dan gunakan untuk pendidikan anak-anak saya kelak, saya gunakan dulu untuk pendidikan saya saat ini, saya ambil les piano, sodara sodara. *maaf ya, calon anak-anakku*

yang penting gayaaa ;p qiqiqiii

yang penting gayaaa ;p qiqiqiii

Les yang saya idam-idamkan saat kecil. Xixixiii.. walaupun tidak ada alatnya, yang penting bisa dulu deh. Begitu pikir saya. Ibu saya mengerutkan dahi, seperti ingin bilang “buat apa mii?”. Beberapa orang teman juga menganggap saya aneh, nyusahin diri, gitu lah, kurang lebih. Dan mungkin, emang betul ndak bakat atau bagaimana gitu ya, permainan saya sering sumbang :D sudah beberapa bulan ini, masih stay tune di do-re-mi dan makin lama makin susah pula teknik tekniknya *ya Allah, tolong akuu*
Walau sudah ada titik terang bahwa saya tidak berbakat dibidang-bidang itu, saya tetap jalani sambil menjajal ranah lain. Ok, kali ini sedikit feminin: masak :D
Saya lumayan suka mbantu ibu masak-masak didapur, berharap, mungkin keahlian ibu sedikit bisa tertular pada anaknya? :D Siapa tahu. Hari ini ibu tidak dirumah. Saya coba masak yang sederhana dulu, bala-bala dan sop ceker ayam. Hasilnya sodara-sodara? :D bala-bala rasa bawang putih yang gak asin dan sop ceker ayam yang agak kekentalan. Ooooh,, my,,,,, :D

Akhir kata, ingin berbagi quote yang mungkin tidak nyambung dengan post kali ini.

“barangsiapa mengenali jiwanya, maka sungguh akan mengenal Rabb-nya”
“barangsiapa menggunakan semua anggota dan kekuatannya untuk mendapatkan ilmu dan mengamalkannya, maka dia serupa dengan malaikat”

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu yang bermanfaat adalah yang mendekatkan kita padaNya :D
Keep on learning, never give up ^^
Salam,

Tunduk Sujud

Posted by: mianurindah on: May 28, 2009

jagalah,,lindungilah,,selamatkan aku,,

Allah,,,

Ngobrol

Posted by: mianurindah on: May 20, 2009

Obrolan di pantry siang itu…

Bang Jon: kalian tau ngga, hukum gravitasi yang katanya ditemuin sama Newton itu, itu sebenernya yang nemu orang Indonesia loh!

Para pendengar: oiya bang?? *berhenti mengunyah sejenak*

Bang Jon: iya, itu loh orang cengkareng. Cuma bedanya, kalo newton kan kejatohan apel trus dia tulis tuh rumusnya, nah klo orang kita kejatuhan duren, jadi belum sempet ditulis rumusnya, uda wafat duluan

Para pendengar: gyaaaaa?@#$%!*!^ *gubrak*

Bang Jon: hahahaaa… yah begitulah, budaya menulis kita memang masih kurang. Banyak orang kita yang pintar-pintar. Tapi ya itulah, budaya menulis itu tadi, masih kurang, jadi ga keliatan tu orang-orang pintar. Ilmu yang mereka punya jadi ga kebagi ke orang lain.

Para pendengar: ,,, *manggut-manggut, terkesima*

Salah seorang pendengar: Eh tapi btw bang, emang bener ya, orang cengkareng?

Bang Jon+pendengar lain: ?@#$%!*!!!!!!@#$%!* gyaaaaa

are you an introvert?

Posted by: mianurindah on: May 19, 2009

Salah seorang sahabat saya bercerita, bahwa menurut hasil penelitian di bidang psikologi, pada umumnya, seorang wanita bisa mengeluarkan 30.000 kata perharinya (CMIIW). Dan secara natural, wanita memang lebih cenderung untuk membagi apa isi hatinya pada orang lain, atau membagi isi pikirannya pada orang lain, atau dengan kata lain, curhat.
Sehingga, jika kondisi normal tersebut tidak dipenuhi, akan ada beberapa kompensasi terhadap hal itu. Kompensasi misalnya dibutuhkan oleh orang (wanita) dengan karakter tertutup atau introvert. Orang yang introvert cenderung menyimpan isi hati/pikirannya sendiri, tidak membaginya dengan orang lain. Sehingga dia akan lebih pendiam jika dibandingkan orang (wanita) lainnya.
Karena angka 30.000 itu pada keadaan normal seharusnya tercapai, maka sebagai kompensasi, orang (wanita) yang introvert akan mengeluarkan kata-kata tersebut secara tidak sadar pada saat dia tidur, atau yang lebih sering kita kenal dengan mengigau.

Wah, saya tidak habis pikir. Saya bisa mengerti kalau kita memang perlu mengungkapkan apa yang menjadi pikiran kita. Tapi, apa benar kebutuhan mengeluarkan kata sedemikian sehingga jika kata tidak dikeluarkan sebagaimana jumlah yang (katanya) semestinya, akan membawa dampak signifikan seperti mengigau.
Seolah ada target untuk kata yang harus dikeluarkan perharinya :D Kalau memang tidak ada yang mau dilontarkan bagaimana? Kalau berkomentar malah berdampak ga baik gmana? Bukankah silent is gold? :D xixiii,,
Lalu, sahabat saya itu melanjutkan kata-katanya, “mia, dikau terkadang mengigau waktu tidur”
,,,

Estimasi Cost Software

Posted by: mianurindah on: May 15, 2009

Pada suatu hari yang cukup senggang, saya diminta bantuan seorang teman untuk membuat software sederhana untuk sebuah badan penyedia layanan –teman saya ini istilahnya mungkin jadi broker-nya lah gitu ya :p -. Proses SDLC (Software Development Life Cycle) dari mulai requirement, analisis, desain, implementasi dan testing, saya lakukan hampir semuanya sendiri (beberapa fase dibantu teman saya itu tentunya) yang berakibat bukan SDLC yang ada tapi chaos, gyahahaa. Saya diberi waktu kurang dari sebulan. Karena softwarenya relatif sederhana, berbekal ilmu dari bangku kuliah, baiklah saya coba jalankan. Ditengah pertemuan dengan user saya ditanya, “berapa kira-kira biayanya?”

Nah, loh, bingung deh. Rasa-rasanya saya belum pernah belajar harga-harga-an gitu, dan saya biasanya agak sungkan bicara masalah do-it :p. Dengan gaya diplomatis saya menjawab, “baik pak, saya coba pelajari dulu, gmana kompleksitasnya,,blaa,,blaa” –haha sok banget ya, padahal bingung tuh, maklumlah anak muda :D -.

Saya benar-benar tidak ada ide masalah harga. Lalu, mulailah saya survey ke beberapa kakak kelas yang punya software house. Pertanyaan awal mereka sama “seberapa kompleks aplikasinya?”, tapi jawaban mereka beda-beda jauh. “10 sampe 12 juta-an mi” haaah? Agak kaget juga. Semahal itu ya. Lalu, “5 juta kali mi”. Yang lain menjawab, “kalo simple sih ya seharga CD aplikasi yang dijual di toko-toko itu, 50 ribuan”. oiyah?.
Pertemuan selanjutnya teman saya sebagai broker menyampaikan, “umm,,10 juta pak” (awalnya dengan harapan ada tawar menawar harga dan pasti jatuhnya akan lebih kecil dari itu). Sang user mendelik. Waktu itu rasanya pengen ketawa dalam hati. Ternyata kemahalan yaaa :D hahahahaaaa. Maapkan! Dan akhirnya, harga untuk pekerjaan tersebut jatuh di nilai 2-3 juta-an (duh, maaf ya, ga pake sensor gini menyebutkan harga :p). Dengan sedikit pengalaman koding, beberapa kendala saat instalasi dan testing, Alhamdulillah, pekerjaan selesai dan tidak molor.

Sebenarnya, ada beberapa cara untuk meng-estimasi harga software. Pengetahuan ini, Alhamdulillah saya dapat di sebuah forum knowledge update belum lama ini. Diantaranya:

    1. Benchmarking
    Membandingkan dengan best practice perusahaan-perusahaan global atau internasional atau dengan perusahaan lain yang menggunakan software yang sama.
    2. Expert Judgment
    Mengundang expert/ahli untuk mengukur kompleksitas software. Ini biasanya digunakan jika software yang akan dibangun sifatnya sangat spesifik; dedicated buat perusahaan tertentu, gitu lah.
    3. WBS (work breakdown structure)
    Break down structure, memecah struktur. Yang di-break down bisa dari segi scope pekerjaan, atau scope software-nya sendiri. Break down dilakukan sampai level detil, lalu dari sana diperkirakan cost perkomponen, lalu didapat cost total.
    4. Analogi
    Jika dipasaran tidak terdapat referensi yang cukup untuk software yang sedang dikembangkan (biasanya karena softwarenya sangat spesifik), konsep analogi ini bisa diterapkan. Breakdown software yang akan dijadikan acuan menjadi komponen-komponen, analogikan kerja komponen dengan sotware yang akan dikembangkan, jika memang match, software tersebut bisa digunakan sebagai referensi.
    5. Menggunakan tools dan memanfaatkan hisrtorical data
    Misalnya menggunakan tools yang bernama COCOMO (Constructive Cost Model). Menurut pembicara pada knowledge update kemarin, COCOMO ini bekerja berdasarkan historical data yang dimiliki. Jadi setiap kita membangun aplikasi, kita input data aplikasi kita ke COCOMO itu, sehingga bisa jadi perbandingan jika kita mau membuat aplikasi di masa yang akan datang. Tapi ya itu, kelemahannya berarti kita harus punya historical data yang cukup lengkap, dan itu tentunya perlu waktu kan :D Tapi kok, yang diterangin ini sepertinya beda ya, sama yang ada di Wikipedia.

FYI 1, teknik-teknik tersebut tidak hanya digunakan untuk menentukan harga dalam bentuk mata uang, tapi bisa menjadi pendekatan untuk estimasi cost dalam bentuk penggunaan resource. Jadi kira-kira, berapa resource yang dibutuhkan untuk membangun software A ini ya.

http://www.gem-up.com/index_files/image20261.jpg  Pada awalnya, line of code (LOC) atau jumlah baris kode pemrograman menjadi patokan dalam penentuan harga. Tapi, hari gini, saat bahasa pemrograman sudah begitu advance, semakin sedikit baris kode (untuk mengeluarkan input yang sama), berarti semakin efisien program tersebut. Banyaknya LOC juga bisa jadi mengisyaratkan adanya spaghety code, yang berujung pada sulitnya maintenance atau pengembangan software tsb kelak (misal jika perlu ada modifikasi?).
Selain teknik estimasi diatas, ada satu istilah baru yang saya dapat: Function point.

Function point memiliki beberapa parameter fungsi untuk menentukan seberapa kompleks sebuah software. Parameter-parameter tersebut menjadi input sebuah formula (sudah ditetapkan) yang nantinya akan memberi output sebuah nilai kompleksitas (nantinya nilai kompleksitas tersebut berupa nilai absolute misalnya kisaran 250-500).
Parameter-parameter tersebut diantaranya jumlah input software, jumlah output software, database (berkaitan dg jumlah table, misalnya), network (ada tidaknya koneksi, protocol, dst), dan lain lain. Parameter ini sangat fleksibel, tergantung dari perusahaan atau orang yang menggunakannya. Seseorang dapat saja menambahkan banyak parameter lain untuk perhitungan atau cukup menggunakan tiga parameter saja –misalnya-. Sehingga nilai function point suatu software yang sama dapat berbeda jika dinilai di satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Karena bersifat subjektif dan relatif, function point dinilai efektif untuk referensi cost software yang akan digunakan sendiri atau yang akan dikembangkan sendiri (in house). Misalnya, sebuah perusahaan punya beberapa software dan telah mendefinisikan formula function point-nya. Maka ketika ia akan membangun software baru, ia menggunakan function point-nya untuk memperkirakan cost software tersebut dan membandingkannya dengan software yang sudah ada. Dari sana, perusahaan dapat mengestimasi, kira-kira cost untuk software itu mirip-mirip dengan software yang mana ya. Jika akan outsource, perusahaan bisa memperkirakan harga untuk tender. Dan jika akan in-house, perusahaan bisa memperkirakan cost yang harus dikeluarkannya.
Tapi,, kok penjelasannya kayak beda juga ya, sama yang di Wikipedia.

FYI 2, materi diatas saya dapat dari knowledge update di tempat saya bekerja. Saya belum cross check dengan sumber lain di internet, buku atau ekspert. So, boleh percaya boleh ngga :D heheheee,,,

Humm,, btw, jadi berapa ya, harusnya harga software yang dulu itu? 10 juta atau 50 ribu yaaa ^_^ xixixixiii,,,
Cheers,

Terimakasih Tetangga!

Posted by: mianurindah on: May 15, 2009

Tempat kost saya modelnya seperti kontrakan. Bangunannya terdiri dari 2 tingkat, delapan kamar. Tidak ada ruang tamu atau ruang penghubung antar kamar. Begitu buka kamar, langsung lah jemuran dan gang. Jadi, seperti tinggal dirumah kecil dengan tetangga-tetangga yang sangat mepet. Atau seperti rumah susun, hanya 8 kamar dan tanpa teras. Untuk menjemur, disediakan sebaris tiang didepan rumah. Satu tiang digunakan untuk bersama-sama. Tiang ini tidak tertutup asbes. Jadi matahari dan hujan punya akses penuh terhadap baju2 yang dijemur. Sebetulnya, karena tidak semua tetangga saya perempuan, saya agak sungkan untuk menjemur diluar rumah. Penghuninya kosan bermacam-macam latar belakangnya. Kebanyakan orang kantoran, pergi pagi pulang malam, jadi sebagian dari kami tidak saling kenal karena jarang sekali bertemu muka, terutama penduduk lantai bawah dengan lantai atas. Dilantai atas sendiri, karena turn over nya cukup tinggi, saya jadi tidak ingat siapa-siapa saja yang ada di atas, kecuali seorang teman kantor saya. Kalau dilantai bawah lumayan. Kamar saya ada diposisi nomor 2, diapit dua kamar, satu dihuni mbak Tini, satu lagi dihuni mbak Tina (bagus ya :D ). Nah, kamar nomor 4, diujung, dihuni oleh beberapa orang mas-mas. Mereka bekerja di POM bensin 24 jam, jadi kepemilikan kamar pun sesuai dengan shift kerja mereka. Nah, karena mereka ada lumayan banyak (gak tau ada tiga apa empat), saya juga tidak hafal namanya siapa saja. Pokoknya semua namanya “mas”. Hohohoooh. Alhamdulillah, penghuni bawah lumayan akur, kami sering bertegur sapa, kadang saling punjung makanan.

Di tulisan saya sebelum-sebelum ini, saya pernah curhat sedikit tentang jemuran saya yang selalu kebasahan hujan. Saya berpikir cukup keras untuk menyelamatkan mereka, baju baju saya. Saya jemur didalam, teryata tetap basah dan lama sekali keringnya. Saya ga sempat beli payung besar, saya juga belum beli tali rafia panjang untuk buat jemuran semi permanen. Akhirnya, saya berharap walau cuaca mendung, jemuran saya bisa kering karena cuaca berangin, atau karena bantuan sinar matahari yang memang akhir-akhir ini lumayan lebih jarang tertutup hujan. Dan hari itu, dari kaca jendela kantor saya menyaksikan, hujan turun dengan cerianya, deras sekali. Hehehe,,,sejuk! tapi basah lagi deh jemuranku. Ya sudah, sorenya, saya pulang dengan siap membilas lagi cucian saya. Sesampainya dikosan, saya terperanjat, jamuran saya berpindah tempat! Lebih tepatnya, dipindahkan!
Seseorang memasang kawat melingkar mengait di jendela saya. Lingkaran itu digunakan seseorang itu untuk mengaitkan baju saya yang masih semi kering. Beberapa menit saya terbengong-bengong, disaat saya berpikir solusi kebendaan untuk masalah saya, Allah menolong saya lewat tangan seseorang –lewat kebaikan hati seseorang- untuk mengangkat jemuran saya saat hujan. Subhanallah..
Pikiran saya langsung tertuju pada tetangga-tetangga saya. Terimakasih ya, tetangga-tetangga ku. Terimakasih ya Allah,

Maaf ya, pada para pembaca, untuk membaca postingan yang tidak jelas ini. Saya cuma lagi terharu :)
Daaah,

Keluarga Soleh

Posted by: mianurindah on: April 16, 2009

Ditengah keramaian, kemelut, kegundahan dan segala yang memusingkan di pemilu Indonesia, saya blum ingin ikutan membahas aaah (ga ada yang nyuruh juga kok mi, yey :D ) .
Saya share aja ya, poin menarik yang saya catat dari acara ceramah pagi di TV dengan pak Aam Amirudin sebagai narasumber. Salah seorang ibu pengajian berseragam merah maroon bertanya,
“bagaimana keluarga yang dikatakan keluarga yang soleh itu?”,
Bapak narasumber menjawab, berikut diantara cirinya:
1.Agama dijadikan sebagai landasan rumah tangga
2.Ada landasan cinta (saling memaafkan, menghargai, menerima)
3.Ada contoh teladan
4.Dihiasi dengan doa

;)
Salam,

Business Continuity Management

Posted by: mianurindah on: April 14, 2009

Untuk perusahaan-perusahaan dengan skala industri kecil, mungkin konsep Business Continuity Management (BCM -bukan BCL ya :p )belum terlalu diperhatikan. Namun, untuk perusahaan berskala besar, apalagi yang dengan customer base atau basis pelanggan yang besar, BCM ini menjadi hal yang sangat krusial.
Kalau dilihat sekilas dari namanya, Business Continuity Management, bisa secara “kasar” diartikan dengan manajemen keberlangsungan bisnis –ini versi saya aja loh ya :D belum tentu valid atau masuk kamus besar bahasa Indonesia :D
Konsep ini berkisar pada bagaimana kita memastikan bisnis tetap berlangsung/berjalan (continue), dan bagaimana service/layanan perusahaan pada pelanggan/customer tetap dapat diberikan walau telah terjadi suatu kerusakan (disruption) baik dalam skala kecil maupun besar.
Kerusakan/disruption skala kecil bisa berupa system service down, sehingga perusahaan tidak dapat menyediakan service/layanan tertentu dalam jangka waktu tertentu (biasanya lama) kepada pelanggan. Service benar-benar mati, tapi service lainnya masih tetap berjalan. (Ini ada kaitannya dengan Incident Management yang mungkin akan saya bahas dilain waktu ;) )
Kerusakan/disruption skala besar bisa berupa bencana alam yang menyebabkan infrastruktur pendukung layanan down, service-service utama down, dan adanya kebutuhan mobilisasi SDM ke tempat yang aman.

Penanganan kerusakan atau gangguan ini memerlukan perencanaan dan penanganan yang benar. Saking pentingnya penanganan ini, dunia entertainment enterprise sepakat untuk menyusun konsep khusus yang disebut Disaster Recovery (pemulihan jika terjadi suatu bencana).
Disaster recovery adalah baru salah satu komponen dalam BCM. Karena dalam mengatur keberlangsungan bisnis tidak hanya saat disaster saja, maka kita perlu suatu rangka kerja khusus yang didalamnya mengatur apa saja dan bagaimana saja sebuah perusahaan akan mempertahankan keberlangsungan bisnisnya. Rangka kerja itu kita sebut Business Continuity Framework.
Dengan dasar rangka kerja itulah, suatu perusahaan menjalankan aktivitas-aktivitas untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya (terkait ketersediaan/availability service ya).

Untuk banyak perusahaan besar, IT (Information Technology) berperan penting sebagai komponen pendukung utama keberlangsungan bisnis. Dalam hal ini, jika dianalogikan dengan perusahaan yang menyediakan layanan pada pelanggannya, IT adalah komponen yang menyediakan layanan kepada perusahaan. IT seringkali menjadi komponen krusial dalam penyediaan layanan perusahaan kepada pelanggannya. That’s why, oleh karena itu, IT perlu memiliki rangka kerja untuk manajemen keberlangsungannya sendiri, and yes, we call it IT Continuity Framework.

Hummm… menarik juga :D perusahaan selalu memerlukan rangka kerja/framework formal untuk bergerak. Framework sepertinya dipandang menjamin adanya sebuah keteraturan.

Framework kita hidup apa? Al-Quran? Benarkah sudah menjadi framework?
Omong-omong, tadi adalah sekilas mengenai BCM. Semoga bermanfaat. Saya sedang ditugaskan mempelajari lebih detil lagi tentang BCM ini. insyaAllah hasilnya saya share/bagi untuk memperdalam pembahasan diatas.
Doakan saya ya ^_^
Terimakasih

Naik Kereta Api, tuut tuut tuut

Posted by: mianurindah on: April 14, 2009

Biasanya saya lebih memilih naik travel untuk pulang Jakarta-Bandung Jumat petang ketimbang naik kereta api. Alasannya, karena kalau pulang malam, pool travel lebih dekat dengan rumah ketimbang stasiun sehingga relatif lebih aman. Tapi kali ini saya mau naik kereta ah. Alasannya, (nyambung ama posting sebelumnya) biasanya saya merasa mati gaya dalam travel; suasana gelap, ngebut ditengah kemacetan, ga bisa tidur, tempat duduk yang mepet2 sehingga sulit berekspresi (ketika tidur), pemandangan pun tidak terlihat karena gelap –alasan utama sih, memang, karena kereta lebih murah ;p xixixiii –
Ternyata memang sesuai harapan.
Kereta terang benderang, jalannya santai, tidur bebas, tempat duduk lega sehingga bebas berekspresi tidur kyak gmana (hadap kiri/kanan/miring sedikit/ngadep atas/dll), pemandangan tidak terlihat tapi kaca jendela memantulkan bayangan diri yang cukup nyata ;D qiqiqiii. Bonusnya, dapet konsumsi pengganjal perut dan bisa pesen teh manis anget :D hore! Alhasil saya ga terlalu mati gaya, saya berhasil ngaca-ngaca gak jelas, membaca beberapa bab Bumi Manusia dan tidur cukup sejam saja :D hore!

Lalu, berikut pesan singkat dari seorang teman ketika saya pamer naik kereta :D xixixiii:
Hahahaa.. ke Bandung 3 jam ya? Bayangkan yang 17 jam dikereta, hauff ga cuma mati gaya mi, mati rasa juga hoho

Cheers,

anti mati gaya

Posted by: mianurindah on: April 13, 2009

Setuju banget dengan iklan ini!!! :D
Seriiiingkali saya lihat pemuda pemudi sodara sodara kita sebangsa setanah air nongkrong di pinggir jalan sambil –tentunya- melihat ke jalan dan diam membisu. Bener-bener diem loh, jongkok terdiam gitu :o
itu kali ya, salah satu ciri mati gaya yang dibilang iklan.
Bengong sedikit untuk relaksasi is ok lah, but mari kita isi setiap detik waktu kita dengan hal-hal bermanfaat, sekecil apapun hal itu. Merdeka!!