“Seluruh alam semesta ini adalah cermin, Cecilia. Seluruh jagat raya ini adalah misteri….”
Sebagai catatan awal, kalau rekans mencari jawab “mengapa bumi berputar?” secara ilmiah, maka bukan ditulisan inilah jawabnya. (brati ga ilmiah dong mie?
yap, I said one of a kind dears..)
Sekitar akhir bulan Desember 2008 lalu, Gramedia buka cabang lagi di Grand Indonesia, Jakarta. Seperti layaknya toko, saat pembukaan adalah saat penting agar orang-orang aware akan kehadiran mereka. Hal tersebut berakibat pada dididiskon-nya 30% semua buku-buku mereka. Tak dinyana, sinyal-sinyal otak belanja ini langsung lah berloncatan dan memacu saya brangkat kesana bersama Piska dan Ella, sobat-sobat saya yang penggemar buku, pada suatu sore yang cerah berawan gmana gitu. Ternyata efek neuromarketing memang dahsyat [yey nyalahin neuromarketing :p]. Orang-orang berjejalan memenuhi toko buku ini. Sampai2 buku yang banyaaak itu berserakan dimana-mana. Agak semerawut. Petugas kewalahan. Dan berefek pada saya juga kebingungan mencari-cari buku incaran, dan akhirnya berdampak pada saya pilih saja buku-buku yang menurut saya menarik.
Salah satu buku yang saya beli itu judulnya “Cecilia dan Malaikat Ariel” karangan Jostein Gaarder, pengarang Dunia Sophie dan Gadis Jeruk. Saya beli karena saya suka tulisan beliau di buku Gadis Jeruk.
Dibuku inilah, judul diatas menjadi salah satu warna dalam kisah Cecilia dan Ariel. Yang menarik, mengapa bumi berputar? dijawab oleh tokoh Ariel, si malaikat, dalam salah satu percakapan Cecilia-Ariel demikian:
“Bumi berputar supaya semua manusia diplanet ini bisa melihat ke semua penjuru angkasa. Dengan begitu, kau bisa menyaksikan hampir semua bintang dan segala sesuatu diatas sana, tak peduli kau berada di bagian mana dari planet ini”.
Kemudian ini:
“Alasan lainnya adalah supaya semua malaikat di langit bisa melihat seluruh bumi, entah dibagian langit manapun mereka sedang berada. Lebih mudah mengamati planet yang terus berputar ketimbang planet yang hanya menunjukkan sebelah pipinya kepadamu”.
qiqiqiqiii… lucu juga ya ^^ (see? one of a kind, isn’t it? :p )
Kenapa kamu diciptakan?
Adam dan Hawa ketika disurga langsung dewasa atau anak-anak?
Bagaimana rasanya terbuat dari darah dan daging?
Bagaimana rasanya melihat?
Bagaimana rasanya mendengar?
Bagaimana rasanya peppermint?
Kenapa manusia berani-berani nya tidur, padahal kalian tidak pasti bakal bangun kembali?
Tidakkah pernah terlintas di pikiranmu bahwa otak manusia adalah substansi paling misterius di seluruh jagat raya?
Dan pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya, yang saya rasa itu sih pertanyaan atas kegundahan pak Jostein Gaarder sendiri dan jawabannya adalah jawaban ia sendiri juga (sotoy mode); ia bungkus semua tanya-jawab dari benaknya itu dalam dialog antara Cecilia dan Ariel. Dia menyebutnya dialog antara Surga dan Bumi.
Dikisahkan dibukunya, Cecilia adalah seorang gadis kecil yang menderita sakit parah. Biasanya dalam kisah klasik, anak kecil yang sedang sakit dan hampir bertemu akhir hayatnya akan ditemani oleh seorang malaikat [yang ini sotoy juga :p heuheuu]. Suatu hari, malaikat Ariel tiba-tiba datang menghampiri Cecilia yang terbaring dikamarnya, menyapa dan mulai bertanya-tanya tentang kehidupan manusia. Sebagai malaikat, dia tak pernah bisa mengerti manusia. Dan sebagai manusia, tentu, Cecilia kecil juga ga ngerti tentang surga dan dunia malaikat. Mereka bercerita tentang dunia masing-masing lewat pertanyaan dan jawaban yang dibalut dalam cerita ini. Sebagian besar isi cerita adalah dialog.
For your note, budaya yang dipakai disini bukan budaya islam, dan kadang statemennya juga mencengangkan. Saya kadang senyum-senyum sendiri, dan berkomentar “hah??” atau “hahahahaaa”. But again like I said, it is just simply one of a kind. Ga usah menelannya mentah-mentah. Cukup mengambilnya sebagai khazanah dan pengayaan gaya bertutur ![]()
Cerita ini juga menggambarkan tentang kehangatan keluarga, betapa sayangnya keluarga Cecilia pada gadis kecil mereka itu. Juga tentang persahabatan, antara Cecilia dan sahabatnya, dengan neneknya, dan dengan si malaikat.
Ending-nya, bukan sad bukan happy, tapi khas lah gayanya pak jostein
*sotoy ketiga dalam tulisan ini*
Sedikit menyentuh sisi sufistik, tulisannya juga sedikit banyak menggambarkan konsep pengenalan Tuhan melalui pengenalan ciptaanNya. Bahwa pada setiap ciptaanNya, terdapat cermin untuk melihatNya karena ia menyematkan sifat-sifatNya pada ciptaanNya itu.
“Setiap mata adalah sekeping misteri Ilahi, lanjut Ariel. Penglihatan adalah pertemuan antara benda dan pikiran, dialah gerbang agung antara mata hati dan pikiran. Mata manusia adalah cermin tempat sisi kreatif dari kesadaran Tuhan bertemu muka dengan diri-Nya sendiri dalam ranah ciptaan”
Kehidupan manusia-malaikat ini mungkin ga hanya dilirik sama pak Gaarder. Mungkin juga jadi pertanyaan seribu orang lainnya.
Salah satunya tanya Arswendo Atmowiloto yang dituangkan di karyanya kaumemanggilkumalaikat.
Disana diceritakan tentang dialog malaikat penjemput nyawa dengan manusia yang sejenak akan pergi meninggalkan jasadnya [koma/sakit], atau yang memang udah meninggal. Dibuku itu, malaikat penjemput menyertai ga cuma seorang gadis kecil [walau main storynya adalah menemani gadis kecil bernama Di], tapi juga banyak orang lainnya. Jadi buku ini menggambarkan juga berbagai kisah akhir kebersamaan seseorang dengan jasadnya seperti akhir hayat seorang preman yang nyebelinnya ga ada dua, seorang ibu rendah hati, seorang kakek –maaf- mesum, seorang gadis jelita. Disini sepertinya ga ada konsep surga-neraka. But for another note, truly, I don’t recommend this book! *Maaf ya pak Arswendo* karena sayah teh ga bisa mengambil pesan darinyah euy. Selesai mbaca, saya malah bingung, apa ya intinya [mengernyit tea]. Malah ada hal-hal yang buat saya ga sopan dipaparin dibuku publik [ -_-‘ huuh gak suka gak sukaa!].
Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (termasuk pertanyaan-pertanyaan pak Gaarder), sebenarnya cara paling mudah adalah kembali pada pegangan hidup kita (menyindir n mengingatkan diri sendiri). Pun menjawab pertanyaan seputar malaikat -makhluk unik yang misteri menurut kita- Al Quran berkisah tentang mereka, sifat-sifatnya, tugas-tugasnya, dan kebaikan mereka mendoakan umat muslim

Saya (sama sekali) bukan ahli, hanya, mari kita tengok beberapa ayat berikut:
An-Naziat (malaikat-malaikat yang mencabut)
1. Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras
2. Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut
3. Demi (malaikat) yang turun dari langit dengan cepat
4. Dan (malaikat) yang mendahului dengan kencang
5. Dan (malaikat) yang mengatur urusan dunia
6. (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam
…….
Ketika memberi peringatan pada ayat-ayat diatas, Dia bersumpah atas nama makhlukNya –malaikat- yang memiliki sifat dan tugas sedemikian,,,
Ketika Ia bersumpah atas sesuatu, maka hal tersebut bermakna bahwa kita diperintahkan untuk menafakuri atau merenunginya,,, [dari Tafsir Al Quran Kontemporer by Pak Aam Amirudin]
Lalu lihat juga pada
At-Thaariq (yang datang dimalam hari)
1. Demi langit dan yang datang pada malam hari
2. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?
3. Bintang yang cahayanya menembus,
4. Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaganya
5. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?
Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaganya,,
Siapakah yang dimaksud penjaga jiwa itu?
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah… (QS. Ar-Ra’du 13: 11)
Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah kecuali malaikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat, dan diturunkan ketenangan kepada mereka,, (H.R Muslim)
Para malaikat, juga memohonkan ampun kepada Allah untuk penghuni bumi,,,
Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang (As-Syuura:5)
Subhaanallah,,subhaanallah,,subhaanallah,,
Anyway, this post actually doesn”t mean to give a resume/bookreview. Thus, the content will seem to be unstructured. Kindly apologize for this.
Salam,



