April 14, 2009...12:48 pm

Business Continuity Management

Jump to Comments

Untuk perusahaan-perusahaan dengan skala industri kecil, mungkin konsep Business Continuity Management (BCM -bukan BCL ya :p )belum terlalu diperhatikan. Namun, untuk perusahaan berskala besar, apalagi yang dengan customer base atau basis pelanggan yang besar, BCM ini menjadi hal yang sangat krusial.
Kalau dilihat sekilas dari namanya, Business Continuity Management, bisa secara “kasar” diartikan dengan manajemen keberlangsungan bisnis –ini versi saya aja loh ya :D belum tentu valid atau masuk kamus besar bahasa Indonesia :D
Konsep ini berkisar pada bagaimana kita memastikan bisnis tetap berlangsung/berjalan (continue), dan bagaimana service/layanan perusahaan pada pelanggan/customer tetap dapat diberikan walau telah terjadi suatu kerusakan (disruption) baik dalam skala kecil maupun besar.
Kerusakan/disruption skala kecil bisa berupa system service down, sehingga perusahaan tidak dapat menyediakan service/layanan tertentu dalam jangka waktu tertentu (biasanya lama) kepada pelanggan. Service benar-benar mati, tapi service lainnya masih tetap berjalan. (Ini ada kaitannya dengan Incident Management yang mungkin akan saya bahas dilain waktu ;) )
Kerusakan/disruption skala besar bisa berupa bencana alam yang menyebabkan infrastruktur pendukung layanan down, service-service utama down, dan adanya kebutuhan mobilisasi SDM ke tempat yang aman.

Penanganan kerusakan atau gangguan ini memerlukan perencanaan dan penanganan yang benar. Saking pentingnya penanganan ini, dunia entertainment enterprise sepakat untuk menyusun konsep khusus yang disebut Disaster Recovery (pemulihan jika terjadi suatu bencana).
Disaster recovery adalah baru salah satu komponen dalam BCM. Karena dalam mengatur keberlangsungan bisnis tidak hanya saat disaster saja, maka kita perlu suatu rangka kerja khusus yang didalamnya mengatur apa saja dan bagaimana saja sebuah perusahaan akan mempertahankan keberlangsungan bisnisnya. Rangka kerja itu kita sebut Business Continuity Framework.
Dengan dasar rangka kerja itulah, suatu perusahaan menjalankan aktivitas-aktivitas untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya (terkait ketersediaan/availability service ya).

Untuk banyak perusahaan besar, IT (Information Technology) berperan penting sebagai komponen pendukung utama keberlangsungan bisnis. Dalam hal ini, jika dianalogikan dengan perusahaan yang menyediakan layanan pada pelanggannya, IT adalah komponen yang menyediakan layanan kepada perusahaan. IT seringkali menjadi komponen krusial dalam penyediaan layanan perusahaan kepada pelanggannya. That’s why, oleh karena itu, IT perlu memiliki rangka kerja untuk manajemen keberlangsungannya sendiri, and yes, we call it IT Continuity Framework.

Hummm… menarik juga :D perusahaan selalu memerlukan rangka kerja/framework formal untuk bergerak. Framework sepertinya dipandang menjamin adanya sebuah keteraturan.

Framework kita hidup apa? Al-Quran? Benarkah sudah menjadi framework?
Omong-omong, tadi adalah sekilas mengenai BCM. Semoga bermanfaat. Saya sedang ditugaskan mempelajari lebih detil lagi tentang BCM ini. insyaAllah hasilnya saya share/bagi untuk memperdalam pembahasan diatas.
Doakan saya ya ^_^
Terimakasih

Leave a Reply