Tempat kost saya modelnya seperti kontrakan. Bangunannya terdiri dari 2 tingkat, delapan kamar. Tidak ada ruang tamu atau ruang penghubung antar kamar. Begitu buka kamar, langsung lah jemuran dan gang. Jadi, seperti tinggal dirumah kecil dengan tetangga-tetangga yang sangat mepet. Atau seperti rumah susun, hanya 8 kamar dan tanpa teras. Untuk menjemur, disediakan sebaris tiang didepan rumah. Satu tiang digunakan untuk bersama-sama. Tiang ini tidak tertutup asbes. Jadi matahari dan hujan punya akses penuh terhadap baju2 yang dijemur. Sebetulnya, karena tidak semua tetangga saya perempuan, saya agak sungkan untuk menjemur diluar rumah. Penghuninya kosan bermacam-macam latar belakangnya. Kebanyakan orang kantoran, pergi pagi pulang malam, jadi sebagian dari kami tidak saling kenal karena jarang sekali bertemu muka, terutama penduduk lantai bawah dengan lantai atas. Dilantai atas sendiri, karena turn over nya cukup tinggi, saya jadi tidak ingat siapa-siapa saja yang ada di atas, kecuali seorang teman kantor saya. Kalau dilantai bawah lumayan. Kamar saya ada diposisi nomor 2, diapit dua kamar, satu dihuni mbak Tini, satu lagi dihuni mbak Tina (bagus ya
). Nah, kamar nomor 4, diujung, dihuni oleh beberapa orang mas-mas. Mereka bekerja di POM bensin 24 jam, jadi kepemilikan kamar pun sesuai dengan shift kerja mereka. Nah, karena mereka ada lumayan banyak (gak tau ada tiga apa empat), saya juga tidak hafal namanya siapa saja. Pokoknya semua namanya “mas”. Hohohoooh. Alhamdulillah, penghuni bawah lumayan akur, kami sering bertegur sapa, kadang saling punjung makanan.
Di tulisan saya sebelum-sebelum ini, saya pernah curhat sedikit tentang jemuran saya yang selalu kebasahan hujan. Saya berpikir cukup keras untuk menyelamatkan mereka, baju baju saya. Saya jemur didalam, teryata tetap basah dan lama sekali keringnya. Saya ga sempat beli payung besar, saya juga belum beli tali rafia panjang untuk buat jemuran semi permanen. Akhirnya, saya berharap walau cuaca mendung, jemuran saya bisa kering karena cuaca berangin, atau karena bantuan sinar matahari yang memang akhir-akhir ini lumayan lebih jarang tertutup hujan. Dan hari itu, dari kaca jendela kantor saya menyaksikan, hujan turun dengan cerianya, deras sekali. Hehehe,,,sejuk! tapi basah lagi deh jemuranku. Ya sudah, sorenya, saya pulang dengan siap membilas lagi cucian saya. Sesampainya dikosan, saya terperanjat, jamuran saya berpindah tempat! Lebih tepatnya, dipindahkan!
Seseorang memasang kawat melingkar mengait di jendela saya. Lingkaran itu digunakan seseorang itu untuk mengaitkan baju saya yang masih semi kering. Beberapa menit saya terbengong-bengong, disaat saya berpikir solusi kebendaan untuk masalah saya, Allah menolong saya lewat tangan seseorang –lewat kebaikan hati seseorang- untuk mengangkat jemuran saya saat hujan. Subhanallah..
Pikiran saya langsung tertuju pada tetangga-tetangga saya. Terimakasih ya, tetangga-tetangga ku. Terimakasih ya Allah,
Maaf ya, pada para pembaca, untuk membaca postingan yang tidak jelas ini. Saya cuma lagi terharu ![]()
Daaah,