April 14, 2009

Naik Kereta Api, tuut tuut tuut

Biasanya saya lebih memilih naik travel untuk pulang Jakarta-Bandung Jumat petang ketimbang naik kereta api. Alasannya, karena kalau pulang malam, pool travel lebih dekat dengan rumah ketimbang stasiun sehingga relatif lebih aman. Tapi kali ini saya mau naik kereta ah. Alasannya, (nyambung ama posting sebelumnya) biasanya saya merasa mati gaya dalam travel; suasana gelap, ngebut ditengah kemacetan, ga bisa tidur, tempat duduk yang mepet2 sehingga sulit berekspresi (ketika tidur), pemandangan pun tidak terlihat karena gelap –alasan utama sih, memang, karena kereta lebih murah ;p xixixiii –
Ternyata memang sesuai harapan.
Kereta terang benderang, jalannya santai, tidur bebas, tempat duduk lega sehingga bebas berekspresi tidur kyak gmana (hadap kiri/kanan/miring sedikit/ngadep atas/dll), pemandangan tidak terlihat tapi kaca jendela memantulkan bayangan diri yang cukup nyata ;D qiqiqiii. Bonusnya, dapet konsumsi pengganjal perut dan bisa pesen teh manis anget :D hore! Alhasil saya ga terlalu mati gaya, saya berhasil ngaca-ngaca gak jelas, membaca beberapa bab Bumi Manusia dan tidur cukup sejam saja :D hore!

Lalu, berikut pesan singkat dari seorang teman ketika saya pamer naik kereta :D xixixiii:
Hahahaa.. ke Bandung 3 jam ya? Bayangkan yang 17 jam dikereta, hauff ga cuma mati gaya mi, mati rasa juga hoho

Cheers,

April 13, 2009

anti mati gaya

Setuju banget dengan iklan ini!!! :D
Seriiiingkali saya lihat pemuda pemudi sodara sodara kita sebangsa setanah air nongkrong di pinggir jalan sambil –tentunya- melihat ke jalan dan diam membisu. Bener-bener diem loh, jongkok terdiam gitu :o
itu kali ya, salah satu ciri mati gaya yang dibilang iklan.
Bengong sedikit untuk relaksasi is ok lah, but mari kita isi setiap detik waktu kita dengan hal-hal bermanfaat, sekecil apapun hal itu. Merdeka!!

February 5, 2009

Bilamana

bersih,,
tajam mata hati
akankah esok atau lusa?

January 20, 2009

Jika Tuhan Bersenda Gurau -by Miranda Risang Ayu-

Menunaikan janji saya pada seorang sahabat (yang sudah mendilet blognya :D wonten nopo to nggih?) , dan untuk dikau kawan, yang sedang jatuh cinta, saya kutipkan tulisan indah tentang cinta yang sederhana.
Mungkin kawan memaknainya lain?
sah-sah saja :)

Anda sedang jatuh cinta? Selamat. Mungkin, dedaunan tiba-tiba lebih hijau dari biasanya. Atau, tanpa sadar, diri anda menjadi lebih bersinar. Jatuh cinta yang baik, kabarnya, membuat seseorang menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, bahkan juga, lebih pengasih, lebih mudah memaafkan, dan lebih tegar menghadapi masalah. Seorang mahasiswi yang tengah jatuh cinta bahkan pernah merasa bahwa pepohonan rimbun menuju kampusnya, yang ia lewati belasan kali dalam seminggu, dengan motor, kepadatan jadwal, dan kebisuan yang sama, tiba-tiba mengirimkan tasbih, yang bergemuruh bersama desir angin.

Dalam perpektif positif, cinta, seperti pesan yang tersirat dalam doa agung sang rasul ketika akan menikahkan putri kesayangannya, mengumpulkan semua yang berserak diantara dua subjek. Cinta menawarkan totalitas. Maka, dunia yang pernuh warna bisa tiba-tiba menjadi jingga semua.
Indah bukan?

Tetapi, dalam perspektif yang sebaliknya, cinta meniadakan warna lainnya. Ia menghanyutkan, menginfeksi kulit hingga saluran pernapasan, sampai ke ujung-ujung rambut yang tidak bersaraf.

Ia membohongi kesadaran bahwa dunia itu hanya satu warna. Bagaimana jika suatu saat orang yang paling dicintai itu berubah menjadi orang yang paling dibenci? Atau, bagaimana jika tiba-tiba, orang yang paling dicintai itu mati? Bukankah kesiapan untuk sungguh-sungguh mencintai juga mensyaratkan kesiapan implisit untuk, suatu saat, sungguh-sungguh kehilangan?

Cinta, seperti juga ciptaan Tuhan lainnya, bukankah juga ‘cuma’ sebuah amanah yang bisa diambil lagi sewaktu-waktu, kapan saja Dia mau?

Lucunya, Tuhan telah lama mengajak manusia bercanda. diciptakanNya pasangan yang membuat tentram dalam diri manusia yang lain, hingga mau tidak mau, suka tidak suka, setiap manusia cenderung akan mencari belahan dirinya yang lain. Padahal, tidak pernah ada data objektif yang menyatakan bahwa ada dua manusia yang bersama-sama dan berbahagia selama-lamanya.

Sayangnya, Tuhan adalah Lex Devina yang tidak bisa diprotes. Lagi pula, agaknya indah jika seorang manusia mau menanggapi candanya, hingga nanti, di perjumpaan terakhir, Ia tidak murka, tetapi tersenyum dengan agung-Nya.

Untuk niat ini, tampaknya, ada tiga cara spiritual yang bisa ditempuh. Pertama, secara sadar, menolak cinta. Arti paling harfiah dari cara ini, tentu adalah tidak mau jatuh cinta, atau secara ekstrem, tidak percaya dengan lembaga perkawinan. Tetapi cara ini terlalu radikal dan serius hingga Tuhan tidak suka.

Kedua, mencintai dengan rasional. Karenanya, ada janji talak dalam surat kawin hingga perjanjian pembagian harta sebelum menikah. Yang paling ekstrem, seorang mencintai dengan perhitungan yang amat rasional, yakni dari bibit, bebet dan bobotnya. Cara ini pasti tidak akan membuatNya murka, tetapi entah ada dimana senyumNya.

Cara ketiga, menjadi pencinta sesungguhnya. Jika Tuhan bertanya, apakah anda jatuh cinta, katakan saja ya,, tetapi itu hanya karena itu satu-satunya cara untuk menghikmati kehadiranNya. Jika Tuhan menyuruh, menikahlah, katakan saja ya, tetapi itu hanya dilakukan karena tidak ada seorangpun yang sanggup menentangNya. Dan jika Tuhan bertanya lagi, sudahkah merasakan cinta yang sesungguhnya, katakan saja ya, tetapi itu hanya senda gurau saja karena hanya kehadiranNya yang mengabadikan semuanya. Jika Tuhan bertanya, mabuk cintakah? Katakan saja ya, tetapi segeralah juga minta agar yang tertuang adalah kebenaranNya.

 

 Sumber: Purnama Hati by Miranda Risang Ayu.

January 19, 2009

Good bye Vienna..

So sorry Kanya, dear friend, I thought it was my fault that finally we can’t attend the concert.
I was imagine how wonderful the symphony of various music instruments streams the beauty of the country’s lakes. We close our eyes, feel the music deep down our heart,,,hold our hands,,take a deep breath,,and push it anyway *blebihaaan*
But the ticket was sold out!
There is no close our eyes, feel the music deep down our heart, hold our hands ,take a deep breath ,and push it anyway anymore!
-_-‘
Our my lesson today, DO NOT DELAY ANYTHING good you want to do. Just do it! If Nike said.

 

 

 

Bye bye then, Vienna,,

January 15, 2009

Neuromarketing

Pernahkah rekan melihat, membludaknya pembeli saat-saat toko tengah mengadakan diskon besar-besaran?
“SALE 50%!”, “SALE UP TO 70%”
What? 50%? 70%?? Kapan lagi gitu loh? Secaraa

 

 

Alhasil, Kita Pembeli terlihat seperti kalap dan langsung belanja banyaak. “Mumpung bro!” gitu kurang lebihnya. Padahal kalau dicermati, kualitas harga barang memang sesuai dengan harga yang diberikan sesudah didiskon. Mungkin malah –mungkin loh!- penjual telah menaikkan harga sebesar nilai yang didiskon itu terlebih dahulu baru kemudian mendiskonnya lagi. Masuk akal bukan, karena tentunya penjual ga mau rugi. Kan ya? [peace buat para penjual/pengusaha! I’m just trying to explain something with those foreword]

Untuk menggambarkan kondisi diatas, mungkin kata mutiara ini cukup mengena:

“Keputusan belanja seringkali tidak ditentukan oleh hal-hal yang rasional”.

Nnnnaaah.. para mojang bujang, ibu-ibu dan bapak-bapak, ternyata demikianlah faktanya. Kata mutiara tersebut ditelurkan dari hasil penelitian marketing di Jerman tahun 2004 lalu. Penelitian ini mencoba menganalisis hubungan antara reaksi sinyal otak terhadap suatu produk/promosinya. Ternyata, otak akan bereaksi (sinyal menguat pada area tertentu) ketika melihat adanya potongan harga pada suatu barang.

Salah satu uji coba dilakukan dengan menyandingkan dua stand penjual kaos kaki. Di penjual A ditulis “POTONGAN HARGA 15000 dapet 3”; sedangkan di penjual B ditulis langsung harganya saja “HARGA 3000”. Setelah diamati, ternyata penjual A lebih banyak dikunjungi pembeli ketimbang penjual B.
Loh kenapa? Why? Bukannya lebih murah yang 3000 kan ya?

Dari beberapa jenis percobaan lain yang dilakukan, akhirnya diambil kesimpulan bahwa otak bereaksi seketika (memberikan sinyal-sinyal tertentu) terhadap pesan khusus seperti “potongan harga, diskon, sale” dan sejenisnya. whereas, sinyal-sinyal otaklah yang akan mengendalikan seseorang untuk bertindak -dalam hal ini ya membeli barang yang ditawarkan potongan harganya itu-.

Singkat kata, demikianlah awal mula Neuromarketing, cabang ilmu yang mempelajari reaksi sinyal otak terhadap suatu produk yang kemudian digunakan untuk kebutuhan strategi marketing. Neuromarketing sendiri sekarang uda berkembang pesat. At a glance, bisa ditengok di site ini http://en.wikipedia.org/wiki/Neuromarketing dan ini http://www.neurosciencemarketing.com/blog/ .
So, siap menjadi objek strategi pasar dengan neuromarketing? ;)

 

-bahan dapet dari pembahasan di radio-
Subhanallah, betapa kerennya ilmu pengetahuan, yah yah? :D

January 14, 2009

Hujan

Aku suka hujan.
Walau agak ketar-ketir waswas kebanjiran, menurutku hujan [bukan badai] adalah selalu sebuah berkah. Salah satu waktu diijabahnya doa; waktu turun kesejukan -yang kadang merembes sampai hati [deuuuh]-; waktu tasbih alam rasanya semakin menggema,, waktu dramatis untuk pembuatan video klip atau film (suka liat ga, lakon superhero yang lagi huhujanan? Atow lakon sinetron yang jalan-jalan santai diguyur hujan? :p hihii).
Jakarta akhir-akhir ini selalu diguyur hujan, terutama subuh hari [klo siang didalem kantor, jadi ga kliatan :p]. Dini hari sebelum/pas adzan subuh gemericik mulai terdengar, makin lama makin kenceng, terus mereda saat matahari naik sepenggalan sedikit. Berangkat kerja tinggal titik2 lembut.
Humm… sejuuuuk,, ^.^

Hujan,
Berita baik bagiku, tapi tidak untuk baju-bajuku. Dalam penantiannya akan sinar, mereka tetep basah kuyup kedinginan,, kasihan,,
Dijemur diluar, setelah dapat bernapas sedikit, tiba-tiba karena hujan harus sesak lagi dengan air [basah lagi gitu maksutnya]. Belum lagi resiko adanya residivis maling jemuran.
Dijemur didalem, karena suasana gelap, susah pula mereka bernapas.
Tapi tenang kawans, aku sebagai partnermu akan coba cari solusi B-)
Humm,, pasang rafia panjang depan jendela untuk tepat bergantung? Atau beli hairdryer barangkali?? Pemanas barbeque? Aaah.. iyaa! beli payung besaaar khusus memayungi kalian? :D
atau.. apa yaaaaa…
-_-‘

January 12, 2009

Boikot!!! Lalu?

Sejenak Berjenak-jenak hampir seluruh dunia tercengang, memandangi layar. Tragedi kemanusiaan melanda Palestine. Air mata beberapa sahabat berderai-derai waktu mereka masuk toilet kantor pulang mengaji. Baru liat tayangan palestine, katanya. Menangis teriris sampai ga bisa berkata kata. Ah, mungkin itu belum seberapa kawan,,terlalu banyak yang ditutupi,,gak banyak yang kita lihat,,

Yang pro penyerangan, seperti juru bicara israel [ya eyyaalaaah..], akan berpendapat penyerangan itu wajar sebagai bentuk pembelaan diri [atas kasus roket katyusha]. Yang pro palestine, pro kemanusiaan, tentu akan menjerit; mengumbar sejuta tanya kenapa harus kek gitu?
ah boi,,,bahkan orang yang gak bersekolah pun mengenali apa itu nurani. Bahkan dahulu, pada perang yang [kurang lebih] sama, Shalehudin Al Ayyubi, dengan kelembutan hatinya, masih bersikap murah hati pada mereka para musuh. Lah ini, anak-anak yang jelas-jelas ga ngerti apa-apa,,ibu-ibu, nenek-kakek,, pemuda-pemudi penuh harapan, para paruh baya penuh impian,, sesama manusia,, manusia bro,,manusia,,[hei situ yang sedang menembak, sampean juga manusia, bukan??]
kawan,, benarlah katamu itu, memang susah dituliskan n dikatakan ya,, hanya bisa dirasakan,,
lalu, apa berhenti di menangis dan di speechless?
Kau tau, tentu tidak teman,, karena selemah-lemah iman adalah mendoakan,, tapi benarkah kita cukup berhenti saja sampai disini? sampai sebatas pada mengandalkan iman yang lemah ini? [ :( maafkan kami ya Allah,,,,]
Mengapa Allah mengijinkan semua itu terjadi? Hal yang sangat mudah bagi-Nya bukan, untuk membalikkan keadaan hingga semua wilayah yerussalem dikuasai palestin –misalnya-.

Apakah karena begitu cinta-Nya Ia pada rakyat palestine sehingga mereka diberi ‘bonus’ untuk meninggal syahid dan langsung bertemu dengan-Nya ditempat terbaik? Begitu sayang-Nya Ia pada anak-anak polos yang belum mengenal dosa sehingga mereka lekas dipanggil dan dijauhkan dari berbuat dosa?
-talk is always cheap,seems :( -
Atau, ada hal lain yang ingin diperlihatkanNya pada kita? …..

Beberapa hari lalu, saya menerima email broadcast dari seorang sahabat yang isinya kurang lebih tentang BOIKOT PRODUK YAHUDI.

Boikot ekonomi untuk tidak membelanjakan uang kita “ sebisa mungkin ” pada produk-produk Yahudi & Amerika, bisa jadi satu tindakan kecil tapi berefek besar, agar mesin-mesin perang mereka berhenti membunuhi saudara kita di Palestine,
bila anda perduli mohon sebarkan ke 10 rekan anda ….

Ada beberapa hal menarik yang menurut saya perlu digaris bawahi disini. Setelah kami lihat dan gosipkan diskusikan, produk mereka ternyata sangat banyak! menyentuh berbagai sisi kebutuhan hidup sehari-hari kita. Mulai dari produk sanitasi, kesehatan, makanan, minuman, entertainment, teknologi informasi, kosmetik, sandang, badan berita/informasi, dll dsb..
Produk teman! Dibalik itu, pasti ada teknologi! ada riset yang dikembangkan! Ada pembelajaran, riset pasar, riset produk, analisis kebutuhan, implementasi! Ya ngga, ya ngga?
So, bisa ditarik kesimpulan kan?

Mungkin benar mereka kejam, sombong, penuh benci dan amarah, lupa diri dan kemanusiaan, pongah,,,
Tapi mereka (rajin) BELAJAR MEN! Gak cuma ngejar nilai 100 atau A [nyepet diri sendiri]. mereka BERKARYA!
Terus, BAGAIMANA DENGAN KITA???
Kita nampak sibuk dengan kepongahan mereka, kita marah, mencerca, mencaci maki, membenci… [hei, jangan-jangan kita menjadi seperti mereka yang kita cap buruk –penuh kebencian, penuh kemarahan, tidak mengambil hikmah-, bahkan lebih buruk lagi, kita ga mau belajar,, naudzubillah]
dan sekarang ketika harus memboikot produk, kita kaget bahwa sebagian besar barang yang akan diboikot adalah barang yang kita konsumsi sehari-hari. Barang yang ada disekitar kita. Dan ketika kita mencari alternatif produk boikot itu, barulah kita sadar,,,
Eh,,, produk kita mana ya?,,,,,,, what have we done all this time?,,,,,,

Hope you got my point!
Selamat belajar dan berkarya!
Ganbatte ne!

January 12, 2009

[another] Quote

“Romantisme seringkali rapuh.
Itu karena jiwa yang halus berbaur dengan kelemahan.
Bukan kombinasi yang bagus. Bias.
Kehalusan menjadi identik dengan kelemahan.
Cinta sejati semestinya menemukan keterarahan sekaligus juga sumber energi.
Dan itu hanya memungkinkan ketika kehalusan jiwa dikombinasikan dengan kekuatan jiwa”
–anis matta-

December 12, 2008

Too much sleep

is bad for you

-_-
.fiuuh.